banner 970x250
BERITA  

Haul ke-20 Nurcholish Madjid: Momentum Menghidupkan Kembali Gagasan Masyarakat Madani

Avatar photo
Haul ke-20 Nurcholish Madjid: Momentum Menghidupkan Kembali Gagasan Masyarakat Madani
banner 120x600
banner 468x60

Jurnalsembilan.com | Jakarta – Nurcholish Madjid Society (NCMS) menggelar Peringatan Haul ke-20 Cendekiawan Muslim Indonesia, Nurcholish Madjid (Cak Nur), di Ballroom JS Luwansa Hotel, Kuningan, Jakarta, Sabtu (30/8/2025). Acara ini berlangsung khidmat, dihadiri oleh tokoh-tokoh bangsa, akademisi, aktivis, serta masyarakat luas yang ingin mengenang sekaligus melanjutkan pemikiran besar almarhum tentang pentingnya masyarakat madani dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Mengusung tema Meningkatkan Kembali Peran Masyarakat Madani, haul tahun ini bukan hanya menjadi momen refleksi spiritual, tetapi juga ruang intelektual untuk merespons tantangan bangsa Indonesia dua dekade setelah wafatnya Cak Nur.

banner 468x60

Acara dimulai dengan doa bersama dan pembacaan surat Al-Fatihah, mendoakan almarhum serta korban bencana yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia.

Ketua Umum NCMS, Muhammad Wahyuni Nafis, dalam ucapan selamat datang menegaskan bahwa gagasan besar Cak Nur tetap relevan hingga kini.

Dengan adanya haul ke-20 ini, kita berharap bisa mengambil hikmah dari pemikiran beliau untuk menghadapi situasi bangsa yang penuh tantangan. Cak Nur mengajarkan keterbukaan, kesetaraan, dan penghormatan pada nilai-nilai agama serta kemanusiaan. Prinsip inilah yang perlu kita hidupkan kembali, ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Hendro Martowardojo, Ketua Yayasan Wakaf Paramadina, menekankan urgensi aktualisasi gagasan masyarakat madani di tengah kondisi bangsa yang semakin kompleks.

Polarisasi sosial, penyalahgunaan agama untuk kepentingan politik, dan melemahnya etika berbangsa adalah ujian besar yang kita hadapi. Warisan Cak Nur tentang masyarakat madani menjadi jawaban agar Indonesia tetap berpegang pada nilai demokrasi yang inklusif, tegas Hendro.

Pidato pembuka disampaikan oleh Omi Komaria Madjid, Ketua Dewan Pembina NCMS sekaligus keluarga besar almarhum. Ia menyampaikan pesan agar warisan intelektual Cak Nur terus dijaga sebagai inspirasi generasi muda.

Almarhum tidak hanya seorang pemikir Islam, melainkan juga pejuang demokrasi yang menekankan pentingnya dialog, toleransi, dan penghormatan terhadap keberagaman. Semoga generasi baru dapat melanjutkan perjuangan itu,” tutur Omi Komaria.

Acara dilanjutkan dengan pemutaran film dokumenter berjudul “Cak Nur dan Momen Reformasi 1998, yang menampilkan kiprah almarhum dalam membangun fondasi masyarakat sipil pascareformasi. Dokumentasi ini mengingatkan hadirin tentang peran besar Cak Nur dalam proses transisi demokrasi Indonesia.

Puncak acara diisi dengan Orasi Budaya oleh Usman Hamid, Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia. Dalam paparannya, Usman menekankan pentingnya menghidupkan kembali gagasan masyarakat madani sebagai penyangga demokrasi dan moral bangsa.

Dua dekade setelah wafatnya, warisan Cak Nur tetap menjadi cahaya moral. Beliau mengajarkan bahwa masyarakat madani adalah kekuatan yang mampu menjaga bangsa dari otoritarianisme, korupsi, ketimpangan sosial, serta penyalahgunaan agama untuk kepentingan politik, ujarnya.

Usman juga menyinggung kondisi ketidakadilan yang dialami masyarakat kecil. Menurutnya, gagasan Cak Nur memberi jalan agar masyarakat sipil tetap berperan aktif melawan diskriminasi, menjaga ruang kebebasan, dan memperjuangkan solidaritas lintas agama, etnis, serta kelas sosial.

Kita diingatkan bahwa demokrasi bukan hanya prosedur elektoral, melainkan juga harus memastikan keadilan sosial dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Itulah inti masyarakat madani yang selalu diperjuangkan Cak Nur,  tambahnya.

Ia menutup dengan refleksi bahwa di tengah turbulensi politik dan tantangan global, bangsa Indonesia membutuhkan kekuatan moral dan intelektual sebagaimana diwariskan Cak Nur, untuk memastikan demokrasi tetap hidup dan berpihak pada rakyat banyak.

Acara kemudian menghadirkan dua penanggap, yakni Prof. Dr. Sulistyowati Irianto (Guru Besar Antropologi Hukum Universitas Indonesia) dan Dr. Budhy Munawar-Rachman (Dosen STF Driyarkara sekaligus Direktur Paramadina Center for Religion and Philosophy).

Prof. Sulistyowati menekankan pentingnya nilai keadilan dalam masyarakat madani, khususnya dalam melindungi kelompok rentan.
Pemikiran Cak Nur memberi kerangka agar negara hadir melindungi yang lemah, bukan hanya melayani yang kuat. Itulah semangat masyarakat madani yang harus kita perjuangkan,” jelasnya.

Sementara Budhy Munawar-Rachman menegaskan bahwa pemikiran Cak Nur perlu terus diajarkan dalam ruang-ruang pendidikan tinggi.
Cak Nur adalah guru bangsa. Kita harus memastikan gagasan tentang Islam inklusif, demokrasi, dan masyarakat madani tetap menjadi bagian dari diskursus akademik dan kebudayaan Indonesia, ujarnya.

Selain para narasumber utama, haul ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh bangsa seperti ekonom dan akademisi Prof. Dr. Didi Rachbini, serta budayawan Romo Franz Magnis-Suseno. Kehadiran mereka menambah bobot refleksi intelektual acara yang berlangsung hangat namun penuh keprihatinan atas kondisi bangsa.

Peringatan haul ditutup dengan doa bersama untuk almarhum, keluarga besar, serta bangsa Indonesia. Para peserta haul meninggalkan ruangan dengan membawa semangat baru untuk menghidupkan kembali gagasan Cak Nur tentang masyarakat madani, sebuah cita-cita luhur yang relevan sepanjang zaman.

(Pimred/Jaya Putra)

CATATAN REDAKSI

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan dengan penayangan artikel dan/atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan/atau berita berisi sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers.

Artikel/berita dimaksud dapat dikirimkan melalui email: jurnalsembilanofficial@gmail.com.
Terima kasih.

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!